Showing posts with label belajar fotografi. Show all posts
Showing posts with label belajar fotografi. Show all posts

Thursday, September 12, 2013

Sei Belajar Fotografi Memahami Aperture

By Ali Hariono

Aperture atau diafragma memegang peran yang sangat penting dalam fotografi exposure. Untuk belajar fotografi tidak boleh melewatkan yang satu ini. Artikel ini kelanjutan dari artikel sebelumnya yang membahas teknik Exposure.

DOF


Ane da bahas kemarin masalah segitiga exposure yang meliputi Shutter speed, ISO dan Aperture. Nah tuch nyang aperture belom dibahas cing …sekarang nich giliran aperture bakal kita sikat habis tuntas, otree?
Dalam membahas masalah aperture kita mesti memahami apa itu yang disebut dengan Depth of Field (DoF) atau ketajaman bidang gambar. Untuk memahami apa itu DOF ane akan memberikan beberapa foto dengan bermacam jenis DOF.

Perhatikan gambar no 1 dibawah ini, dari ketiga penari cilik ini yang paling mendapatkan ketajaman bagus adalah yang terdepan. Penari nomor dua kurang mendapatkan ketajaman gambar apalagi yang paling belakang hampir blur atau istilah dalam fotografi Bokeh – ketajaman object utama sementara object lain di blur.


Ini istilahnya gambar mempunyai ketajaman yang sempit saja, DOF yang sempit. Data teknis dari gambar adalah Lensa Canon EFL 70-200 IS pada aperture f/4; shutter speed 1/250 detik; ISO speed 200 dan pada focal length 165mm. Dengan focal length 165mm dan diafragma f/4 sudah bisa membuat kedalaman bidang yang sempit hanya pada penari paling depan saja.

Gb 1 - DoF yang sempit
Satu contoh lagi adalah foto kedua dibawah ini, masih dengan object penari cilik dengan custum tradisional. Si kecil mungil ini ane shoot pake camera dan lensa yang sama, aperture juga f/4; ISO 200 hanya focal length maksimum 200mm. ente lihat kan cing betapa ketajaman pada bagian kepala si bocah kecil ini sangat tajam sementara area sekitarnya tampak blur alias Bokeh. Kedalaman gambar dipengaruhi oleh seberapa besar diafragma lensa anda dibuka. Semakin lebar bukaan aperture semakin sempit ketajaman bidang gambar (DOF).

Gb 2 - DoF lebi sempit
Sekarang ane mo kasih satu contoh foto lagi akan tetapi dengan setelan aperture yang berbeda, lebih sempit bukaan diafragmanya. Perahu perahu ini lagi bersandar di sisi pantai di Sendang Biru Malang, ente lihat nich cing semua perahu bahkan sampai pepohonon dikejauhan tampak jelas tidak blur. Kedalaman dari bidang foto sangat luas sekali. Camera masih sama akan tetapi lensa yang dipakai adalah Canon EFS 17-85mm di setel pada ISO 100, aperture f/13, speed shutter 1/100 detik dan focal length 17mm.

Kite bisa lihat dari gambar ini bahwa dengan setelan diafragma yang dibuka sempit f/13 maka ketajaman bidang gambar (DOF) menjadi lebar dan luas meliputi seluruh bidang gambar. 

Gb 3 - DOF yang lebar - semua bidang jelas
Nah sekarang jelas kan kalau diafragma atau setelan aperture itu berpengaruh kepada kedalaman gambar atau ketajaman bidang gambar. Semakin dibuka lebar diafragma lensa anda (misal f/1.8; f/2.8) maka ketajaman bidang gambar menjadi sangat sempit yang kemudian disebut Bokeh, dan sebaliknya semakin sempit diafragma dibuka (misal f/13 atau f/22) maka ketajaman bidang gambar semakin luas.

Gb 4 - Aperture Lensa
Gambar diatas ini memberikan ilustrasi bukaan diafragma pada berbagai setelan aperture. Perhatikan untuk aperture f/2.8 bukaan diafragma lebar sekali dan semakin besar aperture semakin sempit bukaan diafragma.

Diafragma dan Shutter Speed


Mengingat shutter speed dan aperture (diafragma) adalah dua pilar dari segitiga exposure maka kedua nya saling terkait satu sama lain. Kombinasi yang tepat antara shutter speed dan aperture bisa memberikan exposure yang tepat sehingga menghasilkan gambar yang bagus pula. Camera mengatur exposure menggunakan parameter-parameter shutter speed dan aperture. Diafragma dengan setelan aperture sempit akan menghasilkan DOF yang luas, alias detail area tercover semua. Sementara shutter speed yang tinggi bisa membekukan object yang bergerak cepat.

Membekukan gerakan cepat


Perhatikan gambar no 4 dibawah ini, para pekerja tambang ini sedang melompat bersamaan di senja temaram dipinggir danau galian tambang di bumi Borneo timur. Agar gerakan mereka melompat keudara bisa dibekukan maka ente kudu nyetel kecepatan camera (shutter speed) secepat mungkin misal 1/500 detik. Karena cuaca sore itu mulai temaram, ISO camera di setel pada 400, aperture disetel pada f/8. Karena object gambar berada didepan latar belakang yang cerah maka gambar jadi siluet, alias gelap temaram membentuk bayangan. 
Gb -5 Membekukan gerak
Shutter speed dan aperture saling terkait satu sama lain. Jika aperture di setel sempit, maka shutter speed jadi lebih lambat. Begitu juga sebaliknya jika aperture di setel lebar (misal f/2.8 atau f/1.8) maka shutter speed jadi bertambah cepat.

Melembutkan gerakan lambat


Sekarang kita ambil contoh lain yaitu memberikan efek lembut pada gerakan air yang mengalir sehingga air terlihat seperti salju. Untuk bisa memberikan efek gerakan lembut seperti riak ombak laut terlihat seperti salju maka intinya adalah memberikan shutter speed yang rendah sekitar 1 sampai 4 detik.

Bagaimana caranya memperoleh kecepatan serendah itu tanpa harus menghilangkan kualitas gambar yang bagus? Usahakan mengambil gambar sesaat sebelum matahari terbit dipagi yang temaram atau sejenak matahari akan atau setelah tenggelam. Saat itu cahaya sekitar terlihat kemerahan temaram tapi masih jelas. Setel camera ente pada aperture serendah mungkin sekitar f/13 atau f/22. Usahakan ISO di setel serendah mungkin sekitar 100 agar detail gambar terlihat tajam dan jelas. Mainkan kombinasi aperture untuk bisa memberikan speed yang rendah sehingga riak ombak laut menjadi lembut. 

Gb -6 Melembutkan gerakan 
Perlu mas Bro and mbak Sis perhatikan bahwa dengan setelan shutter speed yang rendah, pegangan tangan pada camera sangat rentan terhadap gerakan yang bisa berakibat gambar goyang. Makanya usahakan menggunakan Tripod yang sangat kokoh bila perlu menggunakan remote shutter.

Untuk memahami korelasi antara shutter speed dan aperture ada baiknya ente merhatiin gambar berikut ini. perhatikan yang disebut pergeseran control aperture satu klik disebut satu stop. Satu stop memberikan tambahan ½ atau 1/3 tergantung camera, agak rumit kelihatannya akan tetapi kalo ente merhatiin ada semacam rumusan tertentu. Kalo udah biasa maka ente kagak akan merhatiin berapa nilai aperture ato speed, yang penting memberikan kendali camera baik menaikkan atau menurunkan sekian stop untuk bisa memberikan kualitas gambar yang kita inginkan.

Gb - 7 Ilustrasi Aperture dan shutter speed

Perhatikan jika ente mebuka aperture lebih lebar, maka perlu memindahkan kekiri satu stop atau lebih. Sebaliknya jika ente pingin menyempitkan aperture maka gerakkan kekanan satu stop atau lebih.
Pada beberapa model camera, pergeseran stop untuk shutter speed bisa kearah geser kekanan untuk naik speed atau sebaliknya. Pada gambar diagram diatas, untuk shutter speed yang naik pergeseran kearah kanan.

Semua kamera digital menggabungkan exposure dan mengendalikan sistem secara otomatis. Namun, bahkan sistem metering canggih sekalipun tidak akan dapat benar-benar memahami apa yang kamera lihat atau apa yang diinginkan oleh fotografer. Jadi Anda sebagai fotograferlah yang harus melakukan pengaturan dan kendali kamera secara manual untuk menghasilkan eksposur yang tepat sehingga menciptakan foto hebat seindah warna aslinya.

Exposure pada cahaya extreme


Camera akan bekerja sangat keras ketika ente memotret object dengan tingkat cahaya extreme. Pada jaman camera manual dulu hal ini istilahnya disebut sebagai latitude exposure, sementara sekarang di jaman camera digital hal ini disebut sebagai dynamic range.

Jika kita mo metret temen ketika matahari lagi terik-teriknya misal di pantai di siang hari bolong, akan sangat sulit bisa memotret dengan benar dimana semua sudut mendapatkan exposure yang baik baik pada bayangan ato pada bagian yang terang. Pada bagian bayangan biasanya sangat gelap dan jika kita beri terangkan maka bagian lain akan mendapatkan kelebihan cerah atao OE.

Untuk itulah ente kudu ngakalin dengan memberikan lampu blitz agar bisa menerangi bagian tubuh yang terkena bayangan. Perhatikan gambar berikut ini yang emang ane rekam dipantai dengan menyalakan lampuu blitz agar bisa memberikan cahaya pada wajah walau cahaya matahari sangat terik, lihat aja bayangan tuch cowo kuat sekali bukan.
Gb 8 - Dynamic range 
Camera digital mempunyai dynamic range selebar 4EV, +2EV diatas Midtone dan -2EV dibawah midtone. Hal ini akan dibahas lebih detail di artikel ane yang lain, tunggu yach!
Semoga bermanfa’at, Wassalaam.

Ali H

Wednesday, September 11, 2013

Exposure Fotografi Teknik Memotret Yang Benar

By Ali Hariono

Salah satu teknik memotret yang benar dalam kita belajar fotografi adalah memahami teknik exposure camera digital utamanya menggunakan camera SLR digital. 

Apa yang akan ane bahas dalam artikel ini?
  1. Memahami bagaimana camera menangkap suatu object foto
  2. Berbagai macam jenis exposure
  3. Konsep exposure

Nah lho apa itu exposure? Exposure itu sendiri kalo di Bahasa kan artinya paparan, jadi kalo dalam fotografi apa nich?

1. Bagaimana camera menangkap object?


Ok, sebelum memahami apa itu exposure ane akan bahas terlebih dahulu kita fahami bagaimana camera menangkap object gambar kemudian memprosesnya agar bisa tampil di layar monitor kecil camera.

Camera bisa menangkap object hanya jika ada cukup cahaya masuk kedalam sensor camera. Jadi disini cahaya adalah elemen utama dalam suatu fotografi, tanpa ada cahaya maka tidak ada gambar bagus yang akan dihasilkan. 

Gb.1 Penampang camera 

Perhatikan gambar diatas ini, ini ane dapet dari Mas Wiki dari Om Google juga sich. Object gambar ditangkap camera kalo ada cahaya yang mencukupi masuk melalui lensa (saat tombol shutter di buka atau tombol ditekan) kedalam sensor cahaya (light sensor) untuk kemudian diproses menjadi image.

Jadi da jelas nich cing yach bagaimana proses camera menangkap object kemudian diproses menjadi gambar. Kagak usah mikirin proses dalam camera itu sendiri euii …kagak bakal belajar belajar kita nich …yang penting ada cahaya cukup agar bisa menghasilkan gambar. Nah upaya kita untuk bisa menghasilkan gambar yang bagus atau sempurna itulah yang kita sebut sebagai exposure. Dengan exposure yang bagus, akan menghasilkan gambar yang perfect sempurna.

2. Berbagai jenis exposure


Sebelum melangkah lebih jauh bahasan kita tentang exposure ane mo bahas terlebih dahulu jenis-jenis exposure dalam fotografi. Perhatikan gambar dibawah ini, ini adalah hasil gambar dengan exposure yang bagus. Cahaya yang cukup dengan setelan camera yang sesuai akan menghasilkan exposure yang bagus juga, dan gambar yang dihasilkan sempurna.   

Gb 2 - Exposure yang bagus - Lensa EFL 70-200 IS f/4.0
Ketika suatu camera tidak bisa menerima cukup caharya dari object yang akan kita potret, dengan kata lain bahwa object gambar tidak mendapatkan sinar yang mencukupi maka camera akan menerima cahaya lebih sedikit. Akibatnya gambar yang dihasilkan pun menjadi redup, kegelapan atau kelabu tidak jelas. Kondisi seperti kita sebut sebagai Under Exposure (UE) – dibawah exposure.

Under Exposure


Untuk memberikan contoh gambar dengan hasil UE maka gambar berikut sengaja dibuat dan disetel agar menghasilkan gambar yang gelap alias gambar yang under exposure. Cahaya kurang, setelan camera yang salah, tidak ada flash hidup, dalam arti setelan exposure yang kurang bagus. Hasilnya yach ini, walau di potret di luar saat sore masih cerah, tapi setelan exposure camera yang kurang bagus menghasilkan gambar yang redup alias gambar yang UE.

Gb 3 - Gambar yang Under Exposure

Dengan object yang sama dan juga intensitas cahaya disekitar object juga masih sama, walau ada sedikit selisih beberapa detik lebih sore sich cing …gambar di potret lagi dengan setelan yang tepat maka ente lihat nich hasilnya jauh lebih bagus, lebih cerah gambarnya …ini lah perfect exposure, exposure yang tepat dengan memanfaatkan cahaya sekitar.

Gb 4 - Gambar dengan exposure diperbaiki

Over Exposure


Untuk belajar fotografi lebih jauh kita juga kenali terlebih dahulu gambar yang kelebihan cahaya atau dikenal dengan gambar yang Over Exposure (OE).

Jika camera menerima cahaya berlebihan dari object, dengan kata lain ada cahaya berlimpah disekitar object maka sensor camera akan menangkap object dengan cahaya berlebihan juga. Apa hasilnya? Gambar yang dihasilkanpun menjadi berlimpah cahaya alias super cerah, nyentrong, silau maaannn, dan inilah yang kita sebut sebagai OE.

Perhatikan contoh gambar dibawah ini, gambar dengan hasil OE. Langit disisi atas kiri terlihat cerah sekali sangat mengganggu karena cahaya sore diufuk barat lagi nyentrong …mencorong sangat kuat sementara gambar pasangan ABG ini terlihat bagus kalau saja cahaya disisi atas itu bisa dinetralkan. Gimana ngakalinnya? Ntar dulu dech ….

Gb 5 - Gambar yang Over Exposure
Kedua ABG ini bukan lagi dipantai lho cing…salah …mereka lagi di pinggir wetland …alias danau buatan dari bekas galian tambang. Ngapain tuch cewe…lagi main game cing diliatin ame tuch cowo diatasnya ….cahaya diatas menghasilkan sisi yang exposure. Jika lensa dilengkapi dengan filter Circular polarized maka hasilnya akan beda, akan tampil lebih natural.

Agar ente bisa menghasilkan gambar yang bagus …gambar yang super kate Om Mario Teguh …maka ente kudu merhatiin teknik exposure dengan bonar cing. Inti dari teknik exposure adalah mengatur jumlah cahaya yang masuk ke sensor camera sehingga menghasilkan gambar yang super. Diartikel lain nanti ane mo bahas lebih dalam masalah ini.

Nah sekarang ane mo bahas lebih dalem lagi teori dibalik exposure ini, duduk nyang manis and doa dulu cing…amin.

Konsep Exposure


Belajar fotografi akan lebih mantap kalau faham betul konsep dari exposure dalam fotografi. Ada tiga pilar utama dalam exposure yang umum disebut sebagai segitiga exposure seperti terlihat pada gambar berikut ini. ketiga pilar segitiga exposure ini berkaitan erat dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan sensor camera.

Ketiga pilar ini adalah:

  1. Kecepatan ISO – biasa digambarkan dengan angka 80, 100 sampai 1600 bahkan beberapa camera digital bisa sampai 3200.
  2. Kecepatan shutter – biasa disebutkan sebagai satuan sekian detik cahaya masuk ke sensor camera
  3. Aperture – adalah bukaan diafragma lensa.

Apa itu semua? Ntar dulu cing…sabar euii …

Gb 6 Segitiga Exposure
Jika kita ibaratkan cahaya sebagai sebagai air yang mancur, maka air yang memenuhi sebuah gelas dengan penuh itulah ibarat foto dengan exposure yang benar. Masalahnya berapa lama gelas itu penuh itu yang kita sebut sebagai shutter speed.

Perhatikan gambar ilustrasi dibawah ini, kran air yang mengisi gelas dengan air. Kran air itu ibarat diafragma atau aperture. Semakin lebar kran dibuka, maka air mengucur semakin kuat dan akibatnya gelas lebih cepat penuh. Jadi kalau diafragma dibuka lebar maka shutter speed semakin cepat memenuhi sensor camera. Dengan kata lain, diafragma lebar (aperture besar misal f/2.8 atau f/1.8) maka cahaya masuk lebih besar, sehingga camera njepret semakin cepat.

Sebaliknya jika kran dibuka kecil saja, maka air mengalir kecil juga dan butuh waktu lama untuk memenuhi gelas. Jadi kalau diafragma dibuka kecil (atau aperture kecil misal f/11 atau f/22) maka cahaya yang masuk juga kecil sehingga semakin lama memenuhi sensor camera, akibatnya camera akan njepret lebih lama.   

Gb 7 - Analogy diafragma dan cahaya
Nah jelas kan cing, kalo kalo banyak cahaya kan camera kita akan njepret cepat sekali, alias shutter speed nya tinggi misal 1/200 detik atau 1/400 detik. Sebaliknya kalo cahaya sedikit maka camera njepret lebih lambat yang mengakibatkan gambar jadi buram karena goyangan tangan megang camera terasa.

Bagaimana dengan ISO?


Dalam belajar fotografi diatas kita da bahas kaitan antara shuter speed (kecepatan camera njepret) dengan diafragma (aperture). Sekarang kita bahas ISO speed.

Komponen ketiga dalam segitiga exposure adalah ISO speed. ISO itu adalah tingkat sensitifitas sensor camera terhadap cahaya. ISO menggandakan intensitas cahaya yang masuk kedalam sensor. Jadi kalau ISO di camera disetel ke setelan rendah misal 100 atau 80, maka akan butuh waktu lebih lama sensor terexpos atau terpapar cahaya yang masuk lewat lensa camera. Dengan setelan ISO yang rendah akan menghasilkan kualitas detail image yang lebih tinggi, lebih jernih dan lebih tajam.

Sebaliknya jika setelan ISO camera adalah tinggi misal 800 atau 1000, maka waktu yang dibutuhkan sensor camera terexpos ke cahaya bakal lebih cepat. Ada sisi negatifnya yaitu jika ISO semakin tinggi, tingkat noise (gambar berbintik kurang tajam) juga semakin tinggi. Akibatnya adalah kualitas gambar kurang tajam, banyak noise karena data yang diterima oleh camera digandakan oleh sensor.

Setting ISO yang bagaimana?


Belajar fotografi lebih lanjut tentang ISO adalah kapan menggunakan setting ISO rendah dan kapan harus tinggi? Setting ISO berkaitan dengan intensitas cahaya yang ada. Dan semua itu berkaitan dengan kecepatan camera menangkap object atau kecepatan shutter camera.

Jadi jika cahaya disekitar object gambar kecil banget, maka loginya adalah menaikkan setting ISO speed. Di pagi hari atau malam hari yang masih gelap, naikkan ISO lebih tinggi misal 400 atau 800. Dengan ISO yang tinggi maka kualitas gambar semakin berkurang, banyak noise, kurang tajam dan berbintik karena camera menggandakan cahaya yang masuk.

Di siang hari yang cerah dimana cahaya begitu melimpah, gunakan setting ISO yang rendah misal 80 atau 100, jadi cahaya yang masuk di camera tidak perlu dilipatkan sehingga kualitas gambar menjadi sangat bagus sekali dan tajam.

Apakah aturan ini selalu begitu, kalau cahaya kecil ISO dinaikkan? Tidak selamanya begitu, misal di malam hari jika kita ingin mendapatkan gambar suasana malam dari atas gedung misalnya, maka gunakan Tripod dan setel ISO camera pada yang paling rendah misal 80 atau 100. Tentunya kecepatan camera menjadi sangat rendah sekali bisa sekitaran 5 atau 7 detik, dna ini sangat rentan terhadap goncangan camera. Makanya ente kudu pakai Tripod yang kokoh biar camera tidak goyang sedikitpun sehingga hasil gambar tajam dan indah.

Bersambung

Belajar Teknik Dasar Fotografi Bagi Pemula

By Ali Hariono

Blog ini sengaja ane bikin buat berbagi same temen-temen yang pada doyan fotografi tapi belum tahu dari mana mulai belajar fotografi itu. Emang fotografi bukan asal jeprat jepret sana sini, tapi ada teknik dasar yang perlu dipelajari. Apa saja teknik fotografi itu?

Seni fotografi


Pada dasarnya fotografi merupakan suatu seni, seni menangkap object dengan sebuah camera baik camera analog jaman jadul dulu atau camera digital modern kedalam gambar baik cetakan atau hanya berupa file elektronik. Seni ini menggabungkan  teknik penguasaan exposure dan teknik komposisi yang tepat dan seimbang untuk menghasilkan suatu karya foto yang indah.

Dipotret engkong gue di Afrika sebelum dimakan macan ...just kidding cing


Karya foto yang bagus dan hebat tidak hanya suatu karya foto yang indah, enak dipandang dan bagus akan tetapi karya foto yang bagus mempunyai suatu nilai seni yang tinggi, berkarakter dan mempunyai taste atau rasa yang bisa bercerita banyak tentang suatu object yang ditangkap.

Trend fotografi


Sekarang ini fotografi sudah menjadi trend mengingat hampir semua orang bisa memotret, yach bisa memotret saja dari camera digital yang compact, dari camera hand phone atau bahkan camera DSLR yang berharga mahal bagi kebanyakan orang yang berkantong cekak. Hampir semua handphone sudah berkamera …kecuali hp aki ane nich …hp manual …alias telpon rumah …he..he…jadi hamppir semua orang mempunyai kesempatan untuk memotret …jeprat jepret sana sini. Nah alangkah baiknya jika ente-ente yang pingin motret dengan benar mulai belajar fotografi dengan baik. Dari mana mulainya?

Belajar fotografi kagak ada batasnye cing …panjaaang dan panjaaaanngg ….nyang bikin panjang yach jam terbang motretnye sampek lu pada doyan banget ame tuch namanya fotografi, and kalo kagak moto nich tangan bakal gatal-gatal macam digigit nyamuk malademen. Tapi ada beberapa pokok yang perlu dipelajari diantaranya:

  1.  Mengenal camera (khususnya digital SLR)
  2. Teknik exposure
  3. Teknik cahaya
  4. Teknik composisi
  5. Teknik warna

Memahami camera


Kenapa harus tahu bonar itu nyang namanye camera DSLR? Yach karena teknik exposure, composisi, pencahayaan dan pewarnaan kagak bakalan lepas dari bagaimana ente lu pada bisa nguasain peralatan camera (selanjutnya dibilang Gear) ente. Penguasaan gear camera harus faham betul, gimane ente bisa motret dengan bonar kalo mengatur cahaya masuk aja kagak tahu, dan sebagainya. Memahami camera akan dibahas tersendiri nanti di halaman lain.



Teknik exposure


Belajar fotografi tidak bakalan lepas dari teknik dasar fotografi yang disebut Teknik exposure yaitu teknik menangkap cahaya dan gambar dari object yang akan kita potret.

Teknik exposure ini akan dibahas bagaimana sebuah camera itu menangkap object agar bisa menghasilkan gambar yang sempurna. Juga akan membahas berbagai macam jenis exposure dan juga konsep dibalik exposure itu sendiri. Dihalaman lain akan dibahas secara detail dalam artikel belajarfotografi teknik exposure.

Teknik cahaya


Dialam teknik pencahayaan dalam teknik fotografi ente bakal belajar memahami cahaya, karakteristik cahaya, kualitas cahaya, intensitas cahaya dan juga arah dari cahaya itu sendiri.
Nah di artikel teknik cahaya dalam foto juga bakal dibahas dihalaman lain. Klik disini untuk memahami pencahayaan dalam fotografi.

Teknik komposisi


Belajar fotografi tidak lepas dari belajar teknik komposisi. Komposisi ini mengambil peran yang amat penting juga disamping penguasaan camera dengan teknik exposure. Seorang fotografer professional bukan hanya bisa menghasilkan gambar foto yang indah dalam meng kompos suatu object gambar, akan tetapi bisa menghasilkan foto yang indah dan berkarakter.

Diartikel lain akan dibahas secara detail dari teknikkomposisi dalam foto.

Teknik pewarnaan


Yach motret kan kayak buat gambar aja cing…tentunya yach kita juga belajar masalah warna dalam fotografi.

Nah simak artikel lanjutan dari summary ini agar ente semua pada bener tuch cara menghasilkan foto yang indah, berkarakter dan mempunyai taste karena foto adalah suatu seni.

Semoga bermanfa’at

Salam,

Ali H